Berita

Islamofobia di Eropa dan Sikap Tegas Ormas Islam Indonesia: Muhammadiyah di Garda Depan Diplomasi Moderat

GenMu, Garut, 28 Maret 2026 ― GenMu.id menilai bahwa gelombang Islamofobia yang terus menguat di Eropa merupakan tantangan serius bagi peradaban global. Kebijakan-kebijakan diskriminatif yang dilahirkan dari ketakutan irasional terhadap Islam dan umat Muslim tidak hanya mencederai nilai-nilai kemanusiaan universal, tetapi juga mengancam harmoni sosial dalam tatanan dunia yang semakin terhubung.

Peradaban yang beradab dibangun di atas fondasi saling menghormati dan dialog lintas iman. Dalam kerangka tersebut, setiap perbedaan keyakinan dan tradisi keagamaan harus direspons dengan pemahaman yang mendalam dan penghargaan terhadap hak-hak fundamental, bukan melalui kebijakan yang diskriminatif maupun stigmatisasi terhadap kelompok agama tertentu. Ketidakmampuan dalam mengelola keberagaman melalui pendekatan yang inklusif hanya akan memperdalam jurang pemisah antara peradaban Timur dan Barat.

Babak Baru Islamofobia di Eropa

Tahun 2026 mencatat perkembangan signifikan dalam dinamika Islamofobia di Eropa. Di satu sisi, Uni Eropa meluncurkan strategi anti-rasisme baru yang secara spesifik menyasar anti-Muslim hatred sebagai prioritas utama. Strategi yang diadopsi Komisi Eropa pada Januari 2026 ini merupakan kelanjutan dari rencana aksi anti-rasisme periode 2020-2025. Komisioner Eropa untuk Kesetaraan, Hadja Lahbib—imigran generasi kedua dari Aljazair—menyatakan dengan tegas: “Racism locks doors. Europe’s first-ever Anti-Racism Strategy is about opening them… We will defend diversity and inclusion, and build a Union where everyone has a fair chance to reach their full potential.”

Namun di sisi lain, narasi anti-Islam justru menguat melalui jalur legislatif. Majelis Nasional Perancis baru-baru ini mengadopsi resolusi untuk mendorong pencantuman Ikhwanul Muslimin dalam daftar organisasi teroris Uni Eropa. Resolusi yang disahkan setelah perdebatan sengit selama lima jam dengan suara 157 berbanding 101 ini menuai kontroversi. Anggota parlemen Thomas Portes dari kubu La France Insoumise menyebut teks tersebut “Islamophobic” yang telah “menempatkan target di punggung semua Muslim di negara ini.”

Dilema kebijakan Eropa ini mencerminkan ambivalensi dalam menyikapi keberadaan Islam dan umat Muslim di benua biru tersebut.

Akar Multidimensional Islamofobia

Berdasarkan analisis para tokoh Muhammadiyah dan akademisi, Islamofobia di Eropa tidak lahir dalam ruang hampa. Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah, mengidentifikasi tiga faktor utama menguatnya fenomena ini.

“Pertama, terbawa arus sentimen dan ketakutan terhadap Islam yang berlebihan yang sudah menyebar dan menjadi luas di Eropa yang kian hari terus bertambah kuat kecenderungannya. Kedua, reaksi negatif atas apa yang boleh jadi mereka tangkap secara bias atau salah terhadap fenomena ISIS, terorisme, dan sejenisnya di dunia Islam atau di sejumlah negara yang sering bercampur antara realitas dan bias. Ketiga, ekspresi demokrasi liberal di negara-negara Barat, yang memberi kebebasan segala bentuk ekspresi hak, yang tentu saja tidak mencerminkan keadaban dunia modern.”

Sementara itu, Muhyiddin Junaidi, Dewan Pakar LHKI PP Muhammadiyah, memberikan analisis yang lebih mendalam terkait motif di balik aksi-aksi provokatif seperti pembakaran Alquran yang marak terjadi di Swedia dan Denmark pada 2023. Menurutnya, aksi tersebut dipicu oleh Islamofobia yang sengaja didengungkan kembali di Eropa.

“Penyebab utamanya adalah ketakutan masyarakat Eropa non-Muslim melihat banyaknya keluarga Muslim yang sukses dan populasi Muslim yang terus meningkat secara signifikan.”

Fakta demografi memang menunjukkan tren yang mengkhawatirkan bagi kalangan tertentu. Populasi Muslim di Eropa mencapai sekitar 20 persen di Bulgaria, Prancis, dan Inggris. Beberapa negara Eropa seperti Bosnia, Herzegovina, Turki, Albania, dan Kosovo bahkan mayoritas Muslim. Kekhawatiran Uni Eropa bahwa umat Islam bisa menjadi yang terkuat dibanding umat agama lain di Eropa menjadi latar belakang psikologis yang tak terelakkan.

Baca Juga  Launching Perdana Makan Bergizi Gratis (MBG) Muhammadiyah Garut

Perspektif “Islam and Europe” vs “European Islam”

Arif Oegroseno, Duta Besar RI untuk Jerman, dalam pengajian Muhammadiyah memberikan perspektif kunci mengenai akar permasalahan. Ia menjelaskan bahwa di Eropa masih berlaku paradigma “Islam and Europe” bukan “European Islam”—artinya Islam masih dianggap sebagai sesuatu yang asing (alien) dan bukan milik Eropa.

Penyebabnya, menurut Arif, adalah karena nilai-nilai hidup Eropa (demokrasi, rasionalitas tinggi, modernitas) dianggap tidak sama dengan nilai-nilai Islam. Secara psikologis, Islam dinilai sebagai hal yang asing. Ia juga mengidentifikasi tiga aktor utama yang berperan menciptakan Islamofobia: media (baik mainstream maupun media sosial), partai politik di negara-negara Eropa yang menggunakan narasi penolakan terhadap Islam sebagai tagline mereka, serta pemerintah melalui kebijakan yang tidak ramah terhadap kaum Muslim.

Muhammad Najib, pakar politik, menambahkan bahwa media sosial tanpa filter sejak 20 tahun terakhir memungkinkan sentimen rasisme menyebar luas dan dieksploitasi oleh politisi untuk kepentingan elektoral.

Konsistensi Sikap Muhammadiyah

Muhammadiyah, sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, menunjukkan konsistensi sikap dalam merespons Islamofobia di Eropa. Berikut adalah kronologi sikap dan pernyataan resmi yang telah dikeluarkan:

2010: Penyesalan atas Larangan Burqa di Prancis

Din Syamsuddin, Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2005-2015, menyatakan penyesalan mendalam atas larangan penggunaan burqa di Prancis. “Saya menyesal bahwa Prancis melarang penggunaan burqa dan cadar yang dinilai tidak menghargai kebebasan beragama yang merupakan bagian dari demokrasi,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa telah terjadi banyak kesalahpahaman antara negara-negara Barat dan Islam yang melahirkan pandangan Islamofobia. “Islam merupakan agama yang mengajarkan kedamaian bukan kekerasan, dan oleh karena itu amat penting dilakukan kerja sama dan penguatan hubungan antara Indonesia sebagai negara yang mayoritas berpenduduk Muslim dengan negara-negara Barat dalam memperbaiki pandangan tersebut.”

2020: Kecaman Pembakaran Alquran di Norwegia

Ketika kelompok Stop Islamization of Norway (SIAN) membakar Alquran di dekat parlemen Norwegia pada Agustus 2020, Haedar Nashir mengecam keras tindakan tersebut. Ia menyoroti ironi yang terjadi: “Ironinya tindakan intoleran terhadap Islam di Swedia dan Norwegia tersebut terjadi di negara yang selama ini pada setiap memberikan Hadiah Nobel berupa penghargaan atas usaha-usaha perdamaian dan kemanusiaan. Swedia bahkan negeri Alfred Nobel, sang penggagas Hadiah Nobel.”

Haedar juga mengajak umat Islam untuk bersikap dewasa: “Bersamaan dengan itu Muhammadiyah menghimbau dan mengajak kepada masyarakat muslim di dunia Islam, khususnya di Indonesia agar tetap tenang dan dewasa dalam menyikapi peristiwa di Swedia dan Norwegia itu secara damai, proporsional, dan elegan. Seraya menghindari reaksi berlebihan dan tindakan yang tidak mencerminkan karakter Islam yang menjunjung tinggi perdamaian dan nilai-nilai luhur kehidupan.”

2023: Respons atas Pembakaran Alquran di Swedia

Ketika politisi sayap kanan Denmark, Rasmus Paludan, membakar replika Alquran pada Januari 2023, Abdul Mu’ti, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, mengutuk keras tindakan tersebut. Ia menyatakan: “The burning of the replica of Al-Qur’an by Rasmus Paludan was disgraceful showing a narrow-minded attitude and view and excessive hatred of Islam. He should not have been done it if he upheld values of pluralism and multiculturalism.”

Abdul Mu’ti juga memberikan nasihat bijak agar kemarahan umat Islam tetap dalam koridor akhlak mulia: “Excessive expressions of anger and resistance will not solve the problem. It can create new problems and provoke similar methods for politic interests.”

Sementara itu, Anwar Abbas, Ketua PP Muhammadiyah, juga mengutuk keras tindakan tersebut dan menyatakan bahwa pembakaran Alquran mencerminkan Islamofobia yang terus berkembang.

Baca Juga  Muhammadiyah Cabang Panawuan Konsisten Laksanakan Pengajian Pembinaan

2025: Dialog dengan Duta Besar Belanda

Pada 15 Januari 2025, Pimpinan Pusat Muhammadiyah menerima kunjungan Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Marc Gerritsen. Islamofobia menjadi salah satu topik utama yang dibahas. Haedar Nashir menekankan bahwa Islamofobia tidak hanya terjadi di Eropa tetapi juga memiliki manifestasi di Indonesia.

“The discussion also touched on the growing issue of Islamophobia, which is not only prevalent in Europe, including the Netherlands, but also present in Indonesia. Haedar stressed the importance of fostering a moderate and inclusive understanding of Islam to address such challenges. Organizations like Muhammadiyah and NU can play a vital role in building positive relations with other countries through their moderate views.”

Haedar juga menyampaikan rencana penyelenggaraan forum internasional tentang Islam dan kemanusiaan untuk menciptakan dialog yang lebih inklusif dan dinamis.

2025: Dialog Lintas Iman dengan PGI

Dalam pertemuan dengan Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) pada Juli 2025, Syafiq A. Mughni, Ketua PP Muhammadiyah, menyoroti Islamofobia sebagai tantangan global yang dirasakan bersama. “Islamofobia juga dirasakan oleh umat Kristiani dalam bentuk yang berbeda. Maka sudah saatnya kita mencari area-area produktif untuk membangun dialog dan kerja sama, terutama dalam melawan rasisme serta diskriminasi, termasuk pendirian rumah ibadah,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa institusi keagamaan memiliki peran penting dalam membangun harmoni sosial lintas iman secara kolaboratif, dan Muhammadiyah terus mendorong model pendidikan yang inklusif sebagai salah satu jalan perjumpaan lintas agama.

Strategi dan Peran Muhammadiyah

Diaspora Muhammadiyah sebagai Lokomotif Islam Berkemajuan

Dalam acara Syawalan Diaspora Muhammadiyah Eropa pada 2021, Haedar Nashir menyampaikan tiga tantangan utama Muslim Eropa: nilai-nilai HAM, pluralisme, demokrasi, realitas masyarakat sekuler, dan Islamofobia. Strategi yang ditawarkan meliputi konsolidasi diaspora yang fleksibel—PCIM di luar negeri diformat sebagai perhimpunan, bukan organisasi rigid seperti di Indonesia; internasionalisasi gagasan Muhammadiyah melalui penerjemahan buku-buku ke bahasa asing; pengembangan diaspora secara kultural dengan memanfaatkan 8 juta warga Indonesia di luar negeri melalui strategi dakwah baru yang tidak konfrontatif; serta membangun wawasan kosmopolitanisme Islam yang melintas batas. Haedar Nashir menekankan pentingnya rahmatan lil alamin sebagai perspektif baru yang melahirkan pemikiran perdamaian.

Menghapus Stigma melalui Diplomasi Islam Moderat

Abdul Mu’ti menekankan bahwa Muhammadiyah memiliki peran penting dalam menghapus stigma Islamofobia. Langkah konkret yang bisa dilakukan adalah memberikan gambaran bahwa Islam tidak identik dengan Timur Tengah—Islam juga hidup di negara demokrasi dengan politisi wanita, seperti Indonesia. Penelitian akademik dari Universitas Hasanuddin menunjukkan bahwa Islam moderat Indonesia (termasuk yang diusung Muhammadiyah dan NU) menjadi alat diplomasi efektif dalam memperbaiki citra Islam di Eropa melalui sosialisasi dan edukasi tentang Islam yang toleran dan demokratis. Penelitian berjudul “Pengaruh Islam Moderat Indonesia Terhadap Islamophobia di Eropa” (2022) menyimpulkan bahwa Indonesia menampilkan sifat moderatnya secara internasional menggunakan Islam moderat sebagai alat diplomasi.

Respons Bermartabat: Teladan dari Kuwait

Sheikh Assim al-Hakeem, ulama asal Arab Saudi keturunan Indonesia, dalam ceramahnya di Masjid At-Tanwir Muhammadiyah, mengapresiasi respons bermartabat umat Islam yang tidak membalas tindakan provokasi dengan cara serupa. Ia mencontohkan respons Kuwait terhadap pembakaran Alquran di Swedia dengan mencetak 100.000 kopi Alquran terjemahan Swedia. Sheikh Assim juga menyatakan bahwa Muhammadiyah memainkan peran penting dalam mempromosikan Islam dan moderasi melalui dakwah praktis yang menampilkan keunggulan Muslim—cara paling efektif untuk melawan agresi.

Baca Juga  Kajian Ramadhan MAARIF Institute, Bedah Buku Terbaru 3 Cendekiawan Muslim

Penelitian tentang Diaspora Muhammadiyah di Jerman

Penelitian yang terindeks di Garuda (Kemdikbud) menunjukkan bahwa diaspora Muhammadiyah modernis di Jerman memberikan dampak positif dalam meminimalkan stigma negatif Islamofobia di Jerman. Melalui diaspora Islam modernis, Muhammadiyah berusaha mengatasi Islamofobia dengan mengembangkan gerakan dakwah melalui program-program nyata untuk meningkatkan citra positif Islam di masyarakat Jerman.

Tabel Ringkasan Sikap Muhammadiyah terhadap Islamofobia

Isu/KonteksTokoh MuhammadiyahSikap/Pernyataan
Kunjungan Dubes Belanda (2025)Haedar NashirIslamofobia tumbuh di Eropa dan Indonesia; Muhammadiyah-NU berperan membangun hubungan positif melalui moderasi
Pembakaran Alquran Swedia (2023)Muhyiddin JunaidiIslamofobia dipicu ketakutan akan kesuksesan Muslim dan pertumbuhan populasi Islam
Pembakaran Alquran Swedia (2023)Anwar AbbasMengutuk keras tindakan tersebut
Larangan Burqa Prancis (2010)Din SyamsuddinPenyesalan, larangan tidak menghormati kebebasan beragama
Pengajian Umum Islamofobia (2020)Abdul Mu’tiTiga perspektif: 9/11, perkembangan Islam di Eropa, kompleksitas dimensi politik-ekonomi-rasial
Diaspora Muhammadiyah Eropa (2021)Haedar NashirPerlunya wawasan kosmopolitanisme Islam, strategi dakwah dialogis-alternatif, penguatan rahmatan lil alamin
Ceramah di Masjid At-Tanwir (2023)Sheikh Assim al-HakeemMuhammadiyah berperan penting dalam dakwah moderat; respons bermartabat lebih efektif
Dialog dengan PGI (2025)Syafiq A. MughniIslamofobia dirasakan bersama; perlu kerja sama lintas iman melawan diskriminasi

Islamofobia di Negeri Muslim: Ironi yang Mengkhawatirkan

Haedar Nashir juga menyoroti fenomena ironis di mana Islamofobia mulai merambah negeri Muslim. Dalam tulisannya di situs Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, ia mengungkapkan keprihatinannya:

“Sungguh berani dan ironis. Orang makin terbuka mengolok-olok Islam dan umat Islam di negeri Indonesia tercinta. Negeri yang mayoritas penduduknya muslim, bahkan tercatat sebagai negara muslim terbesar di dunia… Islam dikatakan agama impor, ‘penjajah’, dan ‘agama perang’ dengan nada sinis dan apologi. Menghina Alquran dan mengganti sebutan Allah dengan ‘yang lain’.”

Ia mendefinisikan Islamofobia sebagai “pandangan dan sikap yang mengandung prasangka, ketakutan, dan kebencian terhadap Islam dan orang-orang Islam.” Menurutnya, istilah ini sudah lama berkembang awalnya di Barat dan dalam era mutakhir menguat menjadi pandangan global setelah tragedi serangan teroris 11 September 2001.

“Umat Islam tentu dirugikan oleh Islamofobia karena menjadikan dirinya sebagai objek diskriminasi dan perlakuan buruk. Padahal Islam pada dasarnya agama damai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan universal yang rahmatan lil-‘alamin.”

Namun, ia mengingatkan bahwa kaum Muslim dalam menghadapi Islamofobia harus bersikap cerdas dan berpandangan luas sesuai dengan ajaran damai Islam. “Sejauh yang mengangkut penghinaan, kebencian, penodaan, dan segala bentuk penistaan terhadap Islam, Nabi, dan segala aspek keislaman maka dapat dilakukan melalui jalur hukum yang semestinya. Jauhi sikap main hakim sendiri yang bertentangan dengan hukum dan nilai luhur kemanusiaan semesta.”

Penutup: Relevansi Pengalaman Muhammadiyah

Pengalaman Muhammadiyah dalam merespons Islamofobia di Eropa menawarkan model yang relevan bagi upaya global melawan diskriminasi berbasis agama. Konsistensi sikap yang ditunjukkan—kecaman tegas namun elegan, analisis komprehensif terhadap akar masalah, seruan untuk tidak reaktif, strategi dakwah proaktif, serta peran global sebagai jembatan peradaban—menunjukkan bahwa organisasi masyarakat sipil memiliki peran strategis dalam membangun dialog lintas budaya.

Seperti yang disampaikan Muhyiddin Junaidi sejak 2015: “Hadapi dengan proaktif dan elegan, masyarakat barat pun akan banyak tertarik kepada Islam.”

Di tengah menguatnya narasi kebencian dan politik identitas di berbagai belahan dunia, suara moderat dan pendekatan dialogis yang diusung Muhammadiyah menjadi oase yang menawarkan harapan. Islam rahmatan lil alamin bukan sekadar slogan, melainkan panduan praktis dalam membangun peradaban yang menghormati keberagaman dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan universal.

GenMu.id menilai bahwa peran aktif organisasi keagamaan dalam menjembatani perbedaan pemahaman antarperadaban menjadi keniscayaan. Di saat politik identitas dan xenofobia menguat di berbagai belahan dunia, pendekatan dialogis dan humanis yang dikembangkan Muhammadiyah layak menjadi rujukan global. Keberhasilan dalam membangun harmoni sosial di Indonesia yang majemuk dapat menjadi laboratorium sosial bagi resolusi konflik peradaban global.


Penulis: Tim Redaksi GenMu.id
Sumber: Analisis pakar internasional, dokumen resmi PP Muhammadiyah, pernyataan tokoh Persyarikatan, dan laporan media terpercaya.

Related Posts

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *