Garut–Bandung, Jumat-Sabtu, 12-13 Desember 2025 — Potensi energi terbarukan berbasis sumber daya lokal mulai dipetakan sebagai penggerak utama program pemberdayaan masyarakat di Kecamatan Pasirwangi, Kabupaten Garut, dan Kampung Kamojang, Desa Laksana, Kabupaten Bandung. Upaya ini dilakukan melalui Kolaborasi kemitraan antara Dosen-Dosen Universitas Darma Persada Jakarta melalui implementasi Tridarma perguruan tinggi dengan Yayasan Studi Komunitas Alamiah yang merupakan perkumpulan aktivis pemberdayaan Masyarakat di Jawa Barat. Kegiatan meliputi; identifikasi potensi energi bersih dan penyuluhan inovasi program ekonomi masyarakat yang melibatkan berbagai kelompok tani, pelaku UMKM, dan pengelola desa wisata.
Tim pengabdian kepada masyarakat dari Universitas Darma Persada yang dipimpin Ardi Kusmara bersama Aep Saepul Uyun, Andi Tirta, Erkata Yandri, Didik Sugiyanto, Yusran Hanif, dan Edi Suharyawan melakukan pemetaan langsung di sejumlah desa dengan karakteristik unggulan pertanian, pariwisata, dan pengelolaan lingkungan. Kegiatan ini bertujuan mendorong kemandirian ekonomi desa melalui pemanfaatan energi terbarukan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Di Kampung Kamojang, Desa Laksana, Bandung, potensi ekonomi sirkular terlihat dari aktivitas Kelompok Wanita Tani, Kelompok Tani Hutan kopi, Kelompok Usaha Mandiri pengolahan hasil pertanian, serta Kelompok Kamojang Bersih yang bergerak dalam pengelolaan sampah. Kawasan ini juga didukung oleh Kelompok Pesat yang berfokus pada manajemen dan branding wisata Kamojang. Konsep Sirkular Ekonomi, pemanfaatan energi surya, energy panas bumi dan biomassa dinilai relevan untuk mendukung fasilitas wisata, pengolahan produk pertanian, dan pengelolaan lingkungan terpadu.

Sementara itu, di Kecamatan Pasirwangi, Kabupaten Garut, dua desa menunjukkan potensi pengembangan yang berbeda namun saling melengkapi. Desa Padaawas tengah merintis desa wisata embung yang membutuhkan dukungan energi mandiri untuk pencahayaan, pompa air, dan fasilitas pendukung wisata. Penggunaan sistem tenaga surya dan microhidro skala kecil dinilai mampu meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan sekitar embung.


Desa Karyamekar menampilkan model integrated farming yang mengintegrasikan pertanian, peternakan ikan dan domba, serta UMKM pengolahan makanan berbasis hasil tani dan ternak. Limbah peternakan di desa ini berpotensi diolah menjadi energi biomassa atau biogas, sekaligus menghasilkan pupuk organik untuk mendukung produktivitas pertanian. Pola ini menciptakan siklus produksi yang saling menguatkan dan menekan biaya operasional masyarakat.
Selain pemetaan potensi, kegiatan ini juga diisi dengan penyuluhan dan diskusi bersama masyarakat serta Focus Group Discussion (FGD) bersama Yayasan Komunitas Alamiah (SKALA). Materi penyuluhan dan Diskusi difokuskan pada pengenalan konsep energi terbarukan, ekonomi sirkular, Inovasi program pemberdayaan serta penguatan manajemen kelembagaan kelompok usaha dan desa wisata. Pendekatan yang digunakan bersifat partisipatif agar masyarakat tidak hanya menjadi penerima program, tetapi juga aktor utama dalam perencanaan dan pengelolaan inovasi di desanya.
Ketua tim pengabdian, Ardi Kusmara, menyampaikan bahwa integrasi energi terbarukan dengan program pemberdayaan masyarakat merupakan langkah strategis untuk menghadapi tantangan ekonomi dan lingkungan di wilayah pedesaan. Menurutnya, pemanfaatan energi surya dan biomassa tidak hanya berfungsi sebagai sumber energi alternatif, tetapi juga sebagai instrumen peningkatan nilai tambah sektor pertanian dan pariwisata desa.
Melalui kegiatan ini, diharapkan desa-desa di Pasirwangi dan Kamojang dapat menjadi contoh pengembangan wilayah berbasis energi bersih dan potensi lokal. Ke depan, tim pengabdian merekomendasikan adanya pendampingan lanjutan dan implementasi prototipe teknologi energi terbarukan agar manfaat program dapat dirasakan secara langsung dan berkelanjutan oleh masyarakat. (yh)















