GenMu.id | 28 Maret 2026
Dalam pusaran arus perubahan global yang deras dan disrupsi nilai yang tak terelakkan, dakwah tidak lagi cukup dimaknai sebagai sekadar ceramah di mimbar. GenMu.id memandang bahwa strategi dakwah dewasa ini harus menjadi gerakan peradaban yang menjangkau seluruh spektrum masyarakat, dari kelas menengah urban hingga elit pengambil kebijakan. Menjawab tantangan zaman, Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan dituntut untuk merumuskan peta jalan yang inklusif dan berkelanjutan, tidak hanya membidik kuantitas jamaah, tetapi juga kualitas transformasi sosial yang berkeadaban. Hal ini sejalan dengan cita-cita menegakkan nilai-nilai demokrasi substantif dan kemanusiaan universal yang menjadi fondasi bangsa.
Menjangkau Kelas Menengah dan Elit: Antara Tantangan dan Peluang
Realitas sosiologis menunjukkan bahwa kelompok kelas menengah di Indonesia mengalami peningkatan signifikan. Mereka adalah profesional muda, pekerja sektor swasta, dan aktor politik yang memiliki daya beli dan pengaruh besar dalam kebijakan publik. Namun, menurut Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, mantan Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), dakwah Muhammadiyah secara massif belum mampu mempengaruhi kelompok ini secara mendalam. “Kita melakukan dengan cara-cara yang tidak dogmatis, namun dengan cara-cara yang dialogis. Memang dakwah Muhammadiyah secara normatifnya begitu, tapi secara massif belum bisa mempengaruhi di luar Muhammadiyah,” ujarnya dalam wawancara dengan Suara Muhammadiyah.
Tantangan utamanya adalah gaya hidup konsumerisme dan hedonisme yang rentan menjangkiti mereka yang mengalami mobilitas vertikal secara cepat. Prof. Edy menyoroti adanya kesenjangan antara pengetahuan agama dan perilaku nyata (knowledge vs behavior), di mana agama kerap hanya menjadi pengetahuan tanpa implementasi moral yang kuat.
Dakwah Elit: Menggali Tradisi dan Memperbarui Strategi
Dakwah terhadap kaum elit juga masih menjadi pekerjaan rumah besar. Syamsul Hidayat, Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, mengakui bahwa “dakwah terhadap kaum elit belum banyak dilakukan oleh Majelis Tabligh, bahkan Muhammadiyah secara umum juga masih sangat minim”. Padahal, tradisi ini telah lama mengakar, seperti yang dilakukan oleh Ki Bagus Hadikusumo kepada Pemerintah Jepang atau KH Ahmad Badawi kepada Presiden Sukarno. Saat ini, upaya menjangkau elit politik dan pengambil kebijakan terus dilakukan, namun diperlukan pendekatan yang lebih terstruktur dan masif agar dakwah tidak sekadar bersifat seremonial, tetapi mampu mempengaruhi arus kebijakan yang berkeadilan.
Transformasi Digital: Sistem Informasi Tabligh Muhammadiyah (SITAMA)
Untuk menjawab tantangan efisiensi dan pendataan, Majelis Tabligh PP Muhammadiyah mengembangkan Sistem Informasi Tabligh Muhammadiyah (SITAMA). Sistem ini dirancang untuk mengintegrasikan data mubalig, masjid, dan kegiatan pengajian di seluruh level pimpinan Muhammadiyah. Ketua Majelis Tabligh, Fathurrahman Kamal, menjelaskan bahwa SITAMA bertujuan mengukur kinerja dan dinamika dakwah, serta memudahkan akses informasi bagi seluruh unsur pimpinan dan organisasi otonom. “Semua unsur pimpinan, majelis, lembaga, dan organisasi otonom Muhammadiyah di semua level pimpinan, dengan tujuan agar semua menginput data diri masing-masing sebagai mubalig dan seluruh kegiatan majelis/bagian tabligh melalui sistem ini,” tegasnya. Langkah ini merupakan fondasi penting bagi pengelolaan dakwah yang modern, akuntabel, dan berbasis data.
“Sistem informasi dan data tabligh ini dikelola dengan semangat ikhlas-dedikatif, amanah, serta penuh tanggung jawab terutama menyangkut keamanan dan privasi data terkait.”
— Fathurrahman Kamal, Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah
Peta Jalan Dakwah Menuju Indonesia Emas 2045
Tahun 2045 menjadi momentum bersejarah, tidak hanya bagi Indonesia yang genap berusia 100 tahun, tetapi juga bagi Muhammadiyah yang memasuki abad kedua perjuangannya. Menyambut itu, Muhammadiyah melalui Majelis Tabligh merumuskan “Risalah Dakwah dan Tabligh Berkelanjutan” sebagai panduan strategis. KH. Fathurrahman Kamal menegaskan bahwa risalah ini bukan sekadar dokumen konseptual, melainkan “arah gerak peradaban Islam yang akan menuntun bangsa menuju masa depan yang berkemajuan, berkeadaban, dan berdaulat”.
Mengatasi Bonus Demografi dan Krisis Moral
Dalam konsep ini, Muhammadiyah mengidentifikasi beberapa isu krusial. Pertama, bonus demografi 2030-2040 yang jika tidak dikelola dengan baik akan berubah menjadi bencana demografi. Kedua, krisis moral dan spiritual yang ditandai dengan meningkatnya angka depresi dan disorientasi nilai akibat arus digitalisasi yang tak terbendung. Fathurrahman menyoroti, “Muhammadiyah punya potensi masalah baru yang dapat merusak kehidupan modern jika tidak diantisipasi”.
Risalah ini mengusung prinsip ihsan (kesempurnaan niat dan amal), itqan (kesungguhan dan profesionalisme kerja), serta rahmah (kasih sayang dalam relasi sosial) sebagai fondasi kemajuan peradaban Islam. Dakwah tidak lagi dipahami sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi sistem nilai hidup yang dinamis dan adaptif, selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) global.
Integrasi Nilai Islam Rahmatan lil Alamin dalam Isu Global
Menghadapi isu global seperti perubahan iklim, keadilan ekologis, dan transformasi digital, Muhammadiyah mendorong agar dakwah memiliki perspektif keberlanjutan. Seorang mubaligh masa depan dituntut untuk berani berbicara tentang kemiskinan struktural, kesetaraan gender, dan krisis lingkungan. Fathurrahman Kamal menegaskan bahwa “dakwah harus menguatkan kesadaran umat agar mampu berdiri teguh dan berdaulat di tengah pusaran geopolitik” serta menjadikan Islam sebagai sumber moral sustainability.
Konsep ini juga sejalan dengan pandangan bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam, yang mengajarkan keseimbangan antara ibadah, akhlak, dan muamalah dalam konteks sosial yang lebih luas. Dalam konteks kebangsaan, Irwan Akib, Ketua PP Muhammadiyah, juga mengingatkan bahwa segmentasi masyarakat kelas menengah dan atas tidak boleh dilupakan, sebab “Teologi Al Ma’un selain untuk memberdayakan kaum dhuafa, sekaligus tidak anti orang kaya”. Artinya, gerakan dakwah harus inklusif dan memperkuat ekosistem sosial-ekonomi umat secara menyeluruh.
Penulis: Tim Redaksi GenMu.id
Sumber: Suara Muhammadiyah, Tabligh.id, Muhammadiyah.or.id
















