Berita

Halal Bihalal PCM Panawuan 1447 H: Dr. Dudu Hermawan Tegaskan Silaturahmi Bukan Sekadar Tradisi, Melainkan Kebutuhan Hati

GenMu.id | 06 April 2026

Halal bihalal kerap dimaknai sekadar tradisi tahunan yang dilakukan karena rasa malu atau gengsi jika tidak melaksanakannya. Namun, di tengah arus modernitas yang justru meningkatkan tingkat kesepian manusia, Dr. Dudu Hermawan, M.Ag., Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Panawuan, menegaskan bahwa silaturahmi sejatinya adalah kebutuhan hati yang paling purba—bukan sekadar warisan budaya. Dalam ceramahnya pada acara Halal Bihalal Ahad, 5 April 2026 di Aula Dakwah Panawuan, ia mengajak umat Islam kembali merenungi makna mendalam dari menyambung tali kasih sayang sebagai perintah langit yang sejajar dengan ketakwaan. Perspektif ini mengingatkan kita bahwa menjaga hubungan kekerabatan adalah fondasi keadaban sosial dan kemanusiaan yang sejati, sekaligus menjadi solusi atas krisis koneksi emosional di era digital.

Makna Silaturahmi: Menyambung Hati, Bukan Sekadar Bertemu

Dr. Dudu Hermawan membuka ceramahnya dengan mengupas akar kata silaturahmi. Dalam bahasa Arab, shilah berarti hubungan atau sambungan, sementara ar-rahm atau ar-rahim berarti rahim—akar kata yang sama dengan nama-nama Allah, ar-Rahman dan ar-Rahim. “Silaturahmi secara harfiah berarti menyambung tali kasih sayang. Bukan sekadar menyambung pertemuan atau basa-basi, melainkan menyambung hati karena Allah,” tegasnya. Ia mengutip Imam An-Nawawi yang menjelaskan bahwa silaturahmi adalah berbuat baik kepada kaum kerabat sesuai kondisi, bisa berupa harta, bantuan, kunjungan, atau sekadar salam. Perbedaan mendasar dengan kunjungan sosial biasa terletak pada kehadiran hati yang tulus, bukan sekadar protokol atau gengsi.

Baca Juga  PD IPM Garut Adakan Kegiatan Pelatihan Protokoler Untuk Tingkatkan Kualitas Kader

Landasan Al-Qur’an dan Hadis: Ketakwaan Tak Sempurna Tanpa Silaturahmi

Dalam Surah An-Nisa ayat 1, Allah berfirman:

“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembangkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS. An-Nisa [4]: 1)

Dr. Dudu Hermawan menyoroti bagaimana Allah menyandingkan perintah bertakwa dengan perintah menjaga ar-rahim (hubungan kekeluargaan). “Seolah Allah ingin mengatakan: ketakwaanmu tidak sempurna jika silaturahmimu terputus,” ujarnya. Ia juga mengutip Surah Ar-Ra’d ayat 21 yang menyebut bahwa salah satu ciri ulul albab (orang berakal jernih) adalah menyambung apa yang Allah perintahkan untuk disambung. Sementara dalam hadis, Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah silaturahmi” (HR. Bukhari, Muslim). Sebaliknya, ancaman bagi pemutus silaturahmi sangat tegas: “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturahmi” (HR. Bukhari, Muslim).

Silaturahmi sebagai Kebutuhan Hati di Era Paradoks Koneksi Digital

Menurut Dr. Dudu, manusia hidup di zaman paradoks: lebih terhubung secara digital, tetapi tingkat kesepian berada di titik tertinggi dalam sejarah. “Karena koneksi digital tidak pernah bisa menggantikan koneksi hati,” katanya. Ia menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia sebagai makhluk sosial, bersuku-suku agar saling mengenal (QS. Al-Hujurat: 13). Hati yang terisolasi cenderung sakit, dan silaturahmi adalah makanan jiwa—obat rindu, penyembuh luka batin, serta penguat rasa saling memiliki (sense of belonging). “Perasaan bahwa ada yang menunggu kita, mendoakan kita, memanggil nama kita dalam doa malamnya—itulah yang lahir dari silaturahmi yang tulus,” tuturnya.

Baca Juga  Puluhan Anak Yatim dapat Santunan Lebaran  dari Lazismu dan MPKS PCM Panawuan

Bukan Hanya Saat Lebaran: Silaturahmi Sebagai Cara Hidup

Dengan gaya terus terang, Dr. Dudu mengkritik kebiasaan masyarakat yang hanya giat bersilaturahmi saat Lebaran, lalu setelahnya kembali sibuk dan melupakan kerabat. “Rasulullah ﷺ tidak pernah mengaitkan silaturahmi dengan momen tertentu. Beliau berbicara tentang silaturahmi sebagai cara hidup, bukan acara tahunan,” tegasnya. Bentuk silaturahmi modern bisa berupa kunjungan langsung, telepon atau pesan tulus, mendoakan dalam sepi, serta hadir saat orang lain kesusahan. “Bukan sekadar forward konten yang sama ke ratusan orang,” tambahnya.

Mengatasi Ego, Gengsi, dan Luka Lama

Menghadapi hambatan seperti ego, kesibukan, dan luka batin yang belum dimaafkan, Dr. Dudu menawarkan perspektif memaafkan sebagai pembebasan diri. “Memaafkan bukan berarti membenarkan apa yang mereka lakukan, tetapi keputusan kita untuk membebaskan diri dari penjara kebencian,” ujarnya mengutip Imam Al-Ghazali yang menyebut hasad dan dendam sebagai penyakit hati paling berbahaya, dengan obatnya adalah memaafkan dan menyambung kembali hubungan yang putus. Ia mengajak hadirin untuk memulai dari diri sendiri, menjadi yang lebih besar hati, karena dalam Islam yang lebih mulia adalah yang paling cepat melunak hatinya karena Allah.

Buah Manis Silaturahmi: Rezeki, Keberkahan Umur, dan Keluarga Harmonis

Rasulullah ﷺ telah menjanjikan luasan rezeki dan keberkahan umur bagi penyambung silaturahmi. Selain itu, silaturahmi melahirkan keluarga harmonis dan kebahagiaan batin. Dr. Dudu mengutip penelitian psikologi modern yang menyebut kualitas hubungan sosial sebagai prediktor kebahagiaan paling konsisten—lebih dari harta atau karier. “Jauh sebelum penelitian itu ada, Islam sudah mengajarkan hal yang sama melalui perintah silaturahmi,” pungkasnya.


Penulis: Redaksi GenMu.id
Sumber: Ceramah Dr. Dudu Hermawan, M.Ag. pada Acara Halal Bihalal PCM Panawuan, Ahad, 5 April 2026 di Gedung Dakwah Panawuan.

Baca Juga  Tandatangani Komitmen, Lima Kantor Lazismu Wilayah Siap Implementasikan Kampung Berkemajuan

Related Posts

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *