Essay

Berburu Lailatul Qadar di Tengah Perbedaan yang Membentang

Oleh: Budi M.N.

Di malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir Ramadhan, umat Islam di seluruh penjuru dunia berlomba meraih kemuliaan. Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan, menjadi tujuan utama setiap muslim yang ingin menggapai ampunan dan pahala berlipat.

Rasulullah SAW bersabda:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR Bukhari dan Muslim) .

Namun, saat umat Islam berburu malam istimewa itu, sebuah ironi menghadang: mereka melakukannya sendiri-sendiri, tak berjamaah. Sebab, sejak awal Ramadhan pun umat sudah berbeda langkah. Ada yang memulai puasa lebih dulu, ada yang menyusul kemudian. Maka, ketika tiba sepuluh malam terakhir, hitungan malam ganjil pun tak lagi sama. Malam ke-27 bagi sebagian umat, boleh jadi baru malam ke-25 bagi yang lain.

Di sinilah letak kegelisahan yang coba dijawab oleh Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang diluncurkan Muhammadiyah pada Rabu, 25 Juni 2025 lalu di Convention Hall Masjid Walidah Dahlan, Kampus Terpadu Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (UNISA) .

“Perbedaan itu Rahmat” atau Kebingungan yang Berkepanjangan?

Sering terdengar narasi bahwa perbedaan adalah rahmat. Namun, benarkah rahmat itu masih terasa ketika umat kebingungan menentukan kapan harus berhari raya, kapan harus berpuasa Arafah, dan kapan harus berburu Lailatul Qadar bersama-sama?

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, dalam pidato peluncuran KHGT secara tegas menyentil persoalan ini. Ia menyebut perbedaan yang kerap terjadi justru membingungkan umat, terlebih dasar penentuannya sejatinya bersifat pasti.

“Perbedaan dalam penetapan 1 Ramadan, 1 Syawal, dan 10 Zulhijah di berbagai negara dinilai membuat umat awam bingung, padahal peredaran bulan dan matahari adalah sistem eksak,” tegas Haedar .

Baca Juga  Kepemimpinan Ulama Muda: Membumikan Spirit Tajdid dalam Ranah Pelajar

Lebih jauh, ia bahkan mengajukan pertanyaan retoris yang menggelitik: “Kalau Natal bisa serentak 25 Desember di seluruh dunia, kenapa 1 Ramadan tidak bisa serentak? Jangan terlalu lama. Generasi muda menunggu.” .

Pertanyaan itu menggema di ruang peluncuran yang dihadiri para duta besar negara Islam, perwakilan ormas, dan pakar astronomi dari dalam dan luar negeri. Sebuah pertanyaan yang menohok sekaligus mengajak umat Islam untuk tidak alergi terhadap perubahan.

 

Metode Hanyalah Wasilah

Salah satu penghalang terbesar penyatuan kalender selama ini adalah fanatisme metode. Kelompok rukyat dan hisab kerap berdebat, masing-masing merasa paling benar dengan pilihannya sendiri. Padahal, kata Haedar, semua metode hanyalah alat.

“Metode itu hanya wasilah. Kalau metodenya perlu dikoreksi, mari kita koreksi. Jangan merasa malu untuk berubah,” ujarnya di hadapan para peserta peluncuran .

Pernyataan ini penting dicatat. Selama ini, perdebatan hisab-rukyat kerap berlarut-larut karena masing-masing pihak mengklaim metode yang digunakannya paling sesuai dengan sunnah. Haedar mengajak umat untuk naik ke level lebih tinggi: kebenaran substantif, bukan sekadar kebanggaan metodologis.

Bahkan, dengan semangat persatuan yang luar biasa, ia menyatakan kerelaan Muhammadiyah untuk tidak disebut namanya dalam proyek besar ini.

“Hilangkan saja nama Muhammadiyah dari kalender ini. Yang penting kita punya satu hari, satu tanggal yang sama di seluruh dunia Islam,” kata Haedar .

 

Membayar Utang Peradaban

Apa yang dilakukan Muhammadiyah melalui KHGT bukanlah sekadar proyek astronomi semata. Lebih dari itu, ini adalah ikhtiar membayar utang peradaban yang terlalu lama tertunda.

Haedar menyebutkan, “Hutang terbesarnya ialah, hingga saat ini di dunia Islam belum ada kalender yang bersifat seragam yang dapat menyatukan sistem penanggalan dan menentukan hari-hari besar Islam secara konsisten.” .

Baca Juga  112 Tahun Muhammadiyah Peluang Kader-Mu dalam Mengadirkan Kemakmuran untuk Semua

Bayangkan, selama 14 abad sejarah Islam, umat muslim di berbagai belahan dunia merayakan hari raya di waktu yang berbeda-beda. Padahal, esensi dari ibadah sosial seperti Idul Fitri dan Idul Adha adalah kebersamaan. Bagaimana mungkin umat Islam ingin bersatu dalam ukhuwah Islamiyah, tetapi tak kunjung bersatu dalam hal sesederhana penanggalan?

KHGT hadir dengan tiga prinsip utama: keseragaman hari dan tanggal di seluruh dunia, penggunaan hisab astronomi yang memungkinkan prediksi jangka panjang, serta kesatuan matlak yang memandang seluruh permukaan bumi sebagai satu zona kalender Islam .

Dengan prinsip ini, tidak akan ada lagi perbedaan awal Ramadhan atau Syawal antarnegara. Seluruh umat Islam di dunia akan memulai dan mengakhiri puasa di hari yang sama. Maka, berburu Lailatul Qadar pun bisa dilakukan secara berjamaah, tidak lagi sendiri-sendiri.

 

Dari Persatuan Waktu Menuju Kebangkitan Peradaban

Haedar menyebut KHGT sebagai “jihad akbar” dan “ijtihad umat Islam dalam menghadapi zaman yang terus berubah” . Sebuah ungkapan yang menunjukkan betapa strategisnya persoalan penanggalan ini.

Pasalnya, bagaimana mungkin umat Islam bisa menjemput fase khilafah ‘ala minhajin nubuwwah dan memiliki pemimpin yang disepakati bersama, jika dalam urusan tanggal saja masih berdebat dan enggan mengalah?

Kalender Hijriah Global Tunggal bukan hanya tentang kapan memulai puasa atau berhari raya. Ini tentang bagaimana umat Islam mampu membangun konsensus, mengedepankan kepentingan kolektif di atas ego kelompok, dan membuktikan bahwa Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin yang mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Tentu, perjalanan menuju satu kalender global tidak akan mudah. Masih ada perbedaan pandangan, masih ada kebiasaan lama yang mengakar. Namun, seperti kata Haedar, umat Islam mesti bersatu jika ingin membuktikan dirinya sebagai pembawa misi risalah Islam yang sempurna dan paripurna.

Baca Juga  Meneropong Masa Depan Pendidikan melalui Peran Ayah dalam Pengasuhan: Refleksi dari Garut untuk Indonesia

Sudah saatnya kita berburu Lailatul Qadar secara berjamaah. Bukan lagi dalam kesendirian yang dipisahkan oleh perbedaan tanggal, tetapi dalam kebersamaan yang disatukan oleh tekad dan ukhuwah. Sebab, bukankah kemuliaan akan terasa lebih indah jika diraih bersama-sama?

Wallahu a’lam bishshawab.

 

Catatan Redaksi: Tulisan ini adalah opini pribadi penulis berdasarkan peristiwa peluncuran Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) pada 25 Juni 2025 di Yogyakarta dan berbagai sumber terkait Lailatul Qadar. GenMu.id membuka ruang diskusi sehat untuk kemaslahatan umat.

Related Posts

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *