Mesin pengering hybrid, panel surya, dan mesin perajang membuat pengolahan Talas Beneng di Desa Saninten semakin cepat, efisien, dan bernilai.
Pandeglang – Siapa sangka daun Talas Beneng yang tumbuh di kawasan pedesaan Pandeglang bisa menjadi sumber penghasilan yang semakin menjanjikan? Di Desa Saninten, Kecamatan Kaduhejo, Kabupaten Pandeglang, Kelompok Tani Campaka Sakti kini tengah mendorong pengolahan Talas Beneng ke level yang lebih produktif dengan memanfaatkan teknologi tepat guna.
Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Pendanaan 2026, kelompok tani tersebut mendapatkan pendampingan untuk memperkuat tiga sisi usaha sekaligus, yakni produksi, manajemen, dan pemasaran. Pendekatan ini membuat program tidak berhenti pada pemberian alat, tetapi diarahkan agar masyarakat mampu menggunakan teknologi dan mengembangkan usahanya secara mandiri.
Kelompok Tani Campaka Sakti merupakan kelompok yang bergerak dalam pembibitan, produksi, serta pengolahan dan pengeringan daun Talas Beneng. Desa Saninten sendiri merupakan salah satu sentra Talas Beneng di Kabupaten Pandeglang.

Kelompok Tani Campaka Sakti bersama tim pelaksana Program Pengabdian kepada Masyarakat di Desa Saninten. Foto: Tim Pengabdian.
Dari 800 Kilogram Jadi 1,2 Ton
Perubahan paling nyata terlihat dari proses pengeringan. Mesin pengering hybrid energi surya–biomassa yang digunakan kelompok tani dikembangkan dengan menambah rak dari dua tingkat menjadi empat tingkat.
Hasilnya, kapasitas pengeringan meningkat dari sekitar 800 kilogram per hari menjadi 1.200 kilogram per hari. Artinya, kemampuan produksi meningkat sekitar 50 persen.
Tak berhenti di situ. Sistem pengering juga dilengkapi panel surya sebagai sumber energi pendukung. Penggunaan energi surya diharapkan membantu efisiensi operasional sekaligus memperkuat keberlanjutan teknologi pengeringan yang digunakan masyarakat.
“Program ini kami arahkan bukan sekadar memberikan bantuan peralatan, tetapi memastikan teknologi benar-benar digunakan dan mampu meningkatkan produktivitas masyarakat. Pada Kelompok Tani Campaka Sakti, penambahan rak pengering dari dua menjadi empat tingkat meningkatkan kapasitas pengeringan dari sekitar 800 kilogram menjadi 1.200 kilogram per hari,” ujar Ketua Pelaksana Program Pengabdian kepada Masyarakat, Didik Sugiyanto.
Tak Lagi Mengandalkan Perajangan Manual
Persoalan lain yang dihadapi kelompok adalah proses perajangan. Sebelum penerapan teknologi, keterbatasan peralatan membuat proses tersebut belum mampu mendukung peningkatan kapasitas produksi secara optimal.
Kini, kelompok menggunakan mesin perajang Talas Beneng berkapasitas sekitar 300 kilogram per jam. Mesin tersebut membantu mempercepat proses sekaligus menghasilkan ukuran rajangan yang lebih seragam sebelum bahan masuk ke mesin pengering.

Anggota Kelompok Tani Campaka Sakti menggunakan mesin perajang Talas Beneng dalam proses produksi. Foto: Tim Pengabdian.
Bagi anggota kelompok, teknologi tersebut bukan sekadar mesin baru. Peralatan itu mengubah cara kerja dari yang sebelumnya banyak dilakukan secara manual menjadi proses yang lebih cepat dan terukur.
“Dengan adanya mesin perajang dan peningkatan kapasitas mesin pengering, proses produksi menjadi lebih cepat dan kapasitas pengolahan kami meningkat. Teknologi ini sangat membantu anggota kelompok karena pekerjaan yang sebelumnya banyak dilakukan secara manual sekarang dapat dilakukan dengan lebih efisien,” ujar Dedi Muhadi, Penanggung Jawab Kelompok Tani Campaka Sakti.
Petani Tak Hanya Diajak Produksi, tapi Juga Menghitung
Peningkatan kapasitas produksi kemudian diikuti dengan pembenahan cara kelompok mengelola usaha. Sebelum program berjalan, pencatatan keuangan masih dilakukan secara sederhana dan manual. Sekitar 50–60 persen transaksi telah terdokumentasi secara sistematis, tetapi data tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk perencanaan produksi dan pengendalian biaya.
Melalui program pengabdian, anggota kelompok mendapatkan pelatihan pembukuan digital, mulai dari pencatatan transaksi harian hingga penyusunan laporan keuangan sederhana. Pendampingan juga dilakukan untuk menerapkan SOP pembukuan digital agar pencatatan usaha dapat dilakukan secara rutin.
“Kami juga melihat bahwa peningkatan produksi harus diikuti dengan penguatan manajemen dan pemasaran. Karena itu, pendampingan pembukuan digital, pemasaran melalui marketplace dan media sosial menjadi bagian penting agar kelompok tani tidak hanya mampu memproduksi, tetapi juga mampu mengelola dan memasarkan produknya secara lebih mandiri,” jelas Didik.
Dari Pasar Lokal Menuju Antarwilayah
Tantangan berikutnya adalah pasar. Sebelum program, pemasaran langsung ke luar daerah baru menjangkau sekitar dua wilayah. Harga jual produk juga masih berkisar Rp25.000–Rp30.000 per kilogram, lebih rendah dibandingkan harga pasar antardaerah yang mencapai sekitar Rp45.000–Rp60.000 per kilogram.
Karena itu, kelompok didorong memanfaatkan media sosial, marketplace, branding, kemasan, dan penjualan langsung kepada UMKM maupun calon pembeli.
Target program antara lain membangun sedikitnya dua akun marketplace aktif serta meningkatkan harga jual sekitar 15–20 persen melalui penguatan identitas produk dan penjualan langsung tanpa ketergantungan pada tengkulak.

Pelatihan pembukuan digital dan pemasaran bagi anggota Kelompok Tani Campaka Sakti Desa Saninten. Foto: Tim Pengabdian.
Teknologi yang Ditinggalkan Bukan Mesin, tapi Kemampuan
Program ini menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama. Anggota kelompok terlibat dalam pengoperasian peralatan, proses produksi, pelatihan manajemen, hingga pengembangan pemasaran. Dengan demikian, teknologi yang diterapkan diharapkan tidak berhenti sebagai fasilitas program, tetapi menjadi bagian dari sistem usaha kelompok.
Tahap berikutnya diarahkan pada pemeliharaan peralatan, peningkatan keterampilan operator, pengendalian mutu, pemantapan pembukuan digital, penguatan branding, serta perluasan jaringan pemasaran. Kapasitas produksi sekitar 1.200 kilogram per hari diharapkan dapat dipertahankan dan dikembangkan seiring dengan bertambahnya akses pasar.
Bagi Desa Saninten, perjalanan Talas Beneng bukan sekadar cerita tentang meningkatkan jumlah produksi. Lebih jauh, ini adalah cerita tentang bagaimana teknologi, keterampilan, dan potensi lokal dipertemukan untuk menciptakan nilai ekonomi baru bagi masyarakat.
Tentang Program
Program: Program Pengabdian kepada Masyarakat
Tahun Pendanaan: 2026
Skema: Pemberdayaan Berbasis Masyarakat – Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat
Mitra: Kelompok Tani Campaka Sakti
Lokasi: Desa Saninten, Kecamatan Kaduhejo, Kabupaten Pandeglang, Banten
Ketua Pelaksana: Didik Sugiyanto, ST., M.Eng.
Perguruan Tinggi: Universitas Darma Persada
Didukung oleh:
Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
















